Hukum Indonesia Itu Sudah Bagus

Padjadjaran Law Research and Debate Society atau yang biasa disebut PLEADS adalah sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berada di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (Unpad) yang mewadahi, menyalurkan, dan melatih mahasiswa Fakultas Hukum untuk  mengikuti kontes debat. Irma Ambarini Darmawan merupakan ketua PLEADS wanita pertama. Ia tertarik dalam dunia debat semenjak mengikuti berbagai perlombaan saat SMA. Maka dari itu, saat ia menjadi mahasiswa Fakultas Hukum ia langsung memutuskan untuk mengikuti UKM ini.

PLEADS telah mendapatkan beberapa prestasi, seperti juara 1 debat Mahkamah Konstitusi Nasional yang dibawa oleh Ilham Maghribi mahasiswa Fakultas Hukum Unpad angkatan 2012. Nama PLEADS ini sudah tidak asing lagi di telinga mahasiswa Fakultas Hukum di Univeritas lain.

Sosok yang ramah, pandai bertutur kata, dan kritis membuat sosok Irma Ambarini Darmawan yang kerap disapa Ambar ini memiliki wibawanya tersendiri. Saya berkesempatan untuk mewawancarainya pada Kamis tanggal 30 Maret 2017 pukul 15.00 WIB di Baso Boedjangan, Jatinangor-Sumedang.

***

 

Kenapa anda memilih hukum?

Mungkin alasan ini klise sih tapi aku banyak bergaul bersama orang-orang yang ternyata tidak mengindahkan apa itu hukum. Banyak orang yang menganggap jika hukum itu ada tapi tidak untuk dituruti. Aku ingin menjadi orang yang benar-benar bisa membuat hukum itu dipatuhi dan aku ingin memastikan jika hukum di Indonesia bisa ditegakkam dengan maksimal dan membuat Indonesia jauh lebih baik dari segi hukumnya.

Menurut anda bagaimana keadaan hukum Indonesia saat ini?

Menurutku hukum di Indonesia dari segi aturan itu sudah bagus. Seperti koruptor dari hukuman yang diberikan itu sudah cukup menurutku. Tapi permasalahannya adalah pelaksanaan hukum ini yang tidak bagus dan tidak maksimal, sehingga membuat seolah-olah hukum Indonesia tidak bagus. Padahal misalnya dengan hukuman 10 tahun penjara koruptor sudah jera, tapi dalam pelaksaan hukuman tersebut mereka dimanjakan sehingga hukuman 10 tahun penjara tersebut tidak menimbulkan efek jera.

Kenapa anda tertarik dan memilih UKM PLEADS ini untuk anda tekuni?

Aku dari SMA memang sudah tertarik dengan dunia debat dan aku pernah mengikuti beberapa kali lomba debat. Pada saat Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) aku sangat tertarik dengan stand PLEADS ini. Di sana mereka menampilkan video yang membuat aku semakin yakin untuk mengikuti UKM ini, dan aku merasa memang passion aku ada disini sehingga itu membuatku memutuskan untuk ikut UKM ini.

Lalu apa yang menjadi motivasi dan penyemangat anda sehingga anda memutuskan untuk menjadi ketua PLEADS ini?

Dalam satu tahun sekali PLEADS selalu mengadakan kongres yang agenda acaranya adalah pemilihan ketua baru dan evaluasi kepengurusan sebelumnya. Dulu sebenarnya pada saat kongres aku tidak ingin jadi ketua. Tapi, karena aku dari awal telah mengikuti UKM ini dan aku telah banyak meluangkan waktu dan bergaul bersama anak-anak PLEADS, ketika pada akhirnya tidak ada orang yang mau untuk menjadi ketua jujur aku sedih. Akhrinya teman-temanku berkata jika mereka percaya dengan aku PLEADS bisa menjadi lebih baik . Kepercayaan teman-teman itulah yang mejadi motivasiku sampai sekarang, karena dari dalam diriku sendiri itu tidak ada.

Sebelum menjadi ketua PLEADS ini, organisasi apa lagi yang pernah anda ikuti?

Aku semenjak SMP sudah aktif dalam kegiatan pengurus  Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), begitu juga pada  saat SMA. Dalam keduanya itu aku kebetulan aku menjadi pengurus inti dengan menjabat sebegaj sekretaris.

Selain menjadi ketua PLEADS apa lagi kesibukan yang anda jalani saat ini?

Kalo untuk UKM aku hanya mengikuti PLEADS, namun saat ini aku tergabung dalam kepanitiaan Padjadjaran Law Fair (PLF) sebagai kepala divisi debat hukum universitas di Indonesia. PLF sendiri merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh BEM fakultas hukum yang berisikan beberpa kompetisi hukum yang melibatkan fakultas Hukum lainnya dan juga SMA yang ada di Indonesia.

Lalu bagaimana cara anda untuk bisa mengatur kesibukan anda tersebut?

Satu hal yang menirutku sangat membantu adalah membuat schedule. Aku memiliki buku schedule ku sendiri yang selalu aku tuliskan jadwalku tiap harinya. Dalam buku ini tidak hanya jadwal sih, aku juga menuliskan tugas dan apa saja yang aku butuhkan untuk hari berikutnya. Jadi menurutku cara membagi waktu secara efektif adalah dengan dicatat seperti ini.

Jika anda boleh memilih, apa yang akan anda pilih, kuliah atau organisasi?

Kalo aku cenderung organisasi dulu sih. Karena menurutku apa yang kita dapatkan di organisasi itu lebih banyak dari apa yang kita dapatkan di kelas. Dalam organisasi kita belajar praktek langsung. Seperti dalam debat ini kita benar-benar research tentang kasus-kasus dan mosi dari universitas lain. Jadi kita lebih paham prakteknya itu seperti apa, tidak hanya teori yang kita pelajari di kelas.

Bagaimana pembagian kerja dalam keorganisasian PLEADS ini?

Kita memiliki 3 departemen.  Pertama departemen kompetisi, itu berisikan debat, legal drafting dan legal writing. Departemen kedua, ada kajian penelitian dan pengembangan yang tugasnya membuat diskusi, penelitian dan pelatihan calon peserta debat. Yang ketiga, ada Biro media informasi komunikasi anggota dan hubungan eksternal yang tugasnya membuat poster dan menyambut tamu dari universitas lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto: Aulia Padlika Muslim

Vichela Regina saat mewawancarai Irma Ambarini pada kamis, 30 Maret 2107 pukul 15.00 WIB lalu di Baso Boedjangan, Jatinangor

 

Saya dengar PLEADS ini banyak mendapatkan prestasi dan penghargaan. Pernahlah hal tersebut dipublish  dalam media massa?

Prestasi kita lebih sering di publish dalam media sosial, seperti kalau kita juara debat biasanya masuk ke berita unpad dan hukumonline.com. Kita juga pernah masuk pikiran rakyat online tanggal 17 November 2014.

Menurut anda apa kelebihan dari teman-teman yang ada di PLEADS?

Menurutku, formalnya PLEADS ini adalah orang-orang yang mau belajar. Orang-orang yang bertahan di PLEADS hanya mereka yang mau belajar dan kuat untuk ditempa dulu. Orang-orang yang bertahan adalah mereka yang semau itu untuk belajar. Untuk informalnya mungkin karena waktu untuk kita bertemu itu cukup intensif jadi dalam PLEADS ini sudah berasa seperti keluarga sendiri,

Saya mendengar latihan PLEADS ini bisa sampai larut malam bahkan shubuh, apa itu benar? Lalu apa saja yang dilakukan?

Biasanya iya. Ang kita lakukan di minggu pertama itu research umum dulu, setelah itu kita latihan verbal, membuat argumentasi, dan pola pikir. Biasanya kita memakan waktu hampir satu bulan untuk latihan.

Pola pikir seperti apa yang ingin dibentuk oleh PLEADS ini?

Misalnya seperti ini, ketika lawan menyebutkan satu hal, kira-kira kelemahan apa yang bisa kita ambil dan kita putar balikan dari apa yang ia katakan tersebut. Jadi, jika kita terlatih untuk mencari kesalahan orang, apa yang mereka katakan walaupun itu benar, bisa kita cari kesalahannya.

Bagaimana cara PLEADS untuk mendapatkan informasi yang terpercaya ditengah maraknya kasus hoax saat ini?

Dalam debat kita diajarkan untuk research terlebih dahulu. Hal pertama yang biasa kita cari itu biasnya berita, ini bukan untuk mencari argumentasi tetapi untuk mencari tahu terlebih dahulu bagaimana isu dan keadaan yang terjadi di masyarakat. Nah, dari berita tersebut kita mencari informasi yang lebih ilmiah. Cara researchnya yaitu dengan menambahkan .pdf dalam keyword yang kita cari di internet, jadi informasi yang kita dapatkan itu dalam bentuk penelitian dan hal-hal yang dapat kita jamin validitasnya.

 Jika tadi anda menyebutkan kelebihan, lalu apa kekurangan teman-teman anda yang ada di PLEADS ini?

Kekurangan dari kami adalah kami malas untuk kuliah. Kami cenderung lebih semangat untuk PLEADS ini sendiri ketimbang belajar di kelas. Mungkin Ini yang harus diperbaiki dari anggota PLEADS yaitu niatnya untuk kuliah.

Menurut anda adakah perbedaan dari PLEADS ini saat sebelum dan sesudah anda ketuai?

Hmm.. kalo untuk pelaksanaan kegiatan ke luarnya belum terlalu keliatan sih, karena belum ada kompetisi yang kita ikuti dan kita laksanakan juga. Namun untuk pengurus PLEADS sendiri inshaAllah pengurus kali ini lebih solid dan kegiatannya lebih terencana. Karena semua proposal sudah disiapkan dari awal.

Pengalaman apa yang sudah anda dapatkan ketika menjabat sebagai ketua PLEADS ini?

Pengalaman paling luar biasa yang aku dapatkam sampai saat ini yaitu aku belajar bijaksana dan percaya sama teman-teman  yang membantu aku. Sebenarnya aku adalah tipe orang yang sulit untuk percaya dengan  orang lain, aku senang mengerjakan  banyak hal sendiri. Tapi ketika aku dilantik menjadi ketua, aku sadar jika organisasi ini tidak  mungkin jalan kalau semua bebannya ada di aku. Jadi aku belajar untuk percaya sama orang-orang yang memang sudah aku pilih sendiri. Kalau aku jadi ketua tapi aku masih capek dan pusing sendiri, berarti aku gagal jadi ketua.

Memangnya ada berapa banyak anggota dari PLEADS ini?

Untuk pengurusnya sendiri itu  ada 68 orang. Untuk anggota dari PLEADS ini  banyak dan tidak menggunakan sistem daftar-daftaran, kalau kamu mengikiuti kegiatan PLEADS apa saja, maka  kamu otomatis dianggap sebagai anggota dari PLEADS ini.

Pola asuh seperti apa yang kedua orang tua anda berikan sehingga berpengaruh terhadap anda hingga sekarang?

Mungkin aku dibiasakan sama orangtuaku untuk ngambil keputusan sendiri. Orangtuaku bukan tipe orangtua yang bakal ngedikte aku harus bagaimana dalam hal-hal besar atau kecil. Jadi untuk melakukan  suatu hal, aku harus pikirkan sendiri alasan-alasanku, lalu aku sampaikan ke mereka. Setelah itu mereka mmberi masukan dan pertimbangan lain di luar alasan-alasan yang sudah aku pikirkan, lalu aku putuskan sendiri. Dari pola seperti itu, aku belajar bertanggung jawab untuk semua hal yg aku lakukan, karena semua itu aku yang memilih dan memutuskan. Sama halnya seperti memilih untuk menjadi ketua PLEADS ini. Mamaku ga pernah bilang iya atau engga. Dia cuma nanya, apa pertimbangan iya dan engganya. Dia kasih alasan-alasam lain yg belum aku pikirkan, pro dan kontra. Akhirnya tetap aku yg memutuskan .

Apa harapan anda untuk teman-teman anda yang berada di PLEADS ini?

apapun yang mereka lakukan dalam PLEADS ini bermanfaat bagi kehidupam mereka. Targertanya tidak harus juara, karena itu merupakan usaha dan tambahan nikmat dari Tuhan. Tapi hal yang menjadi prioritas untukku adalah mereka sungguh-sungguh  melakukan apa yang menjadi tugas mereka dan mendapat manfaat dari itu, ilmu setidaknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto: Aulia Padlika Muslim

Irma Ambarini Darmawan, ketua PLEADS masa jabatan 2016-2017 di Baso Boedjangan, Jatinangor pada Kamis, 30 Maret 2017

 

 

Nama lengkap: Irma Ambarini Darmawan

TTL: Pekanbaru, 19 Agustus 1996

Hobi: Membaca, menyanyi

Alamat: Jl. Dago Pojok No. 27G, Coblong, Bandung

Media Sosial: all medsos @irmaambarinid

Alamat Surel: irmaambarinid@gmail.com

No hp: 08116929496

Riwayat Pendidikan:

SDN 009 Langgini Bangkinang

SMPN 1 Bangkinang, Riau

SMAN 1 Bangkinang, Riau

Pengalaman organisasi:

Sekretaris OSIS SMAN 1 Bangkinang

Kepala Divisi Debat PLEADS 2016

Ketua PLEADS 2017

Prestasi:

Juara 1 Kompetisi Debat Hukum Nasional Diponegoro Law Fair 2014

Juara 2 Kompetisi Debat Hukum Nasional UIN LAW FAIR 2015

Semifinalis Debat Mahkamah Konstitusi Regional Barat 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PL1/Rep./A/2017                                                                                           V. Regina Aprillia

210610160040

 

 

Ketua Padjadjaran Law Research and Debate Society, Irma Ambarini Darmawan:

Hukum Indonesia Itu Sudah Bagus

 

Padjadjaran Law Research and Debate Society atau yang biasa disebut PLEADS adalah sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berada di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (Unpad) yang mewadahi, menyalurkan, dan melatih mahasiswa Fakultas Hukum untuk  mengikuti kontes debat. Irma Ambarini Darmawan merupakan ketua PLEADS wanita pertama. Ia tertarik dalam dunia debat semenjak mengikuti berbagai perlombaan saat SMA. Maka dari itu, saat ia menjadi mahasiswa Fakultas Hukum ia langsung memutuskan untuk mengikuti UKM ini.

PLEADS telah mendapatkan beberapa prestasi, seperti juara 1 debat Mahkamah Konstitusi Nasional yang dibawa oleh Ilham Maghribi mahasiswa Fakultas Hukum Unpad angkatan 2012. Nama PLEADS ini sudah tidak asing lagi di telinga mahasiswa Fakultas Hukum di Univeritas lain.

Sosok yang ramah, pandai bertutur kata, dan kritis membuat sosok Irma Ambarini Darmawan yang kerap disapa Ambar ini memiliki wibawanya tersendiri. Saya berkesempatan untuk mewawancarainya pada Kamis tanggal 30 Maret 2017 pukul 15.00 WIB di Baso Boedjangan, Jatinangor-Sumedang.

***

 

Kenapa anda memilih hukum?

Mungkin alasan ini klise sih tapi aku banyak bergaul bersama orang-orang yang ternyata tidak mengindahkan apa itu hukum. Banyak orang yang menganggap jika hukum itu ada tapi tidak untuk dituruti. Aku ingin menjadi orang yang benar-benar bisa membuat hukum itu dipatuhi dan aku ingin memastikan jika hukum di Indonesia bisa ditegakkam dengan maksimal dan membuat Indonesia jauh lebih baik dari segi hukumnya.

Menurut anda bagaimana keadaan hukum Indonesia saat ini?

Menurutku hukum di Indonesia dari segi aturan itu sudah bagus. Seperti koruptor dari hukuman yang diberikan itu sudah cukup menurutku. Tapi permasalahannya adalah pelaksanaan hukum ini yang tidak bagus dan tidak maksimal, sehingga membuat seolah-olah hukum Indonesia tidak bagus. Padahal misalnya dengan hukuman 10 tahun penjara koruptor sudah jera, tapi dalam pelaksaan hukuman tersebut mereka dimanjakan sehingga hukuman 10 tahun penjara tersebut tidak menimbulkan efek jera.

Kenapa anda tertarik dan memilih UKM PLEADS ini untuk anda tekuni?

Aku dari SMA memang sudah tertarik dengan dunia debat dan aku pernah mengikuti beberapa kali lomba debat. Pada saat Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) aku sangat tertarik dengan stand PLEADS ini. Di sana mereka menampilkan video yang membuat aku semakin yakin untuk mengikuti UKM ini, dan aku merasa memang passion aku ada disini sehingga itu membuatku memutuskan untuk ikut UKM ini.

Lalu apa yang menjadi motivasi dan penyemangat anda sehingga anda memutuskan untuk menjadi ketua PLEADS ini?

Dalam satu tahun sekali PLEADS selalu mengadakan kongres yang agenda acaranya adalah pemilihan ketua baru dan evaluasi kepengurusan sebelumnya. Dulu sebenarnya pada saat kongres aku tidak ingin jadi ketua. Tapi, karena aku dari awal telah mengikuti UKM ini dan aku telah banyak meluangkan waktu dan bergaul bersama anak-anak PLEADS, ketika pada akhirnya tidak ada orang yang mau untuk menjadi ketua jujur aku sedih. Akhrinya teman-temanku berkata jika mereka percaya dengan aku PLEADS bisa menjadi lebih baik . Kepercayaan teman-teman itulah yang mejadi motivasiku sampai sekarang, karena dari dalam diriku sendiri itu tidak ada.

Sebelum menjadi ketua PLEADS ini, organisasi apa lagi yang pernah anda ikuti?

Aku semenjak SMP sudah aktif dalam kegiatan pengurus  Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), begitu juga pada  saat SMA. Dalam keduanya itu aku kebetulan aku menjadi pengurus inti dengan menjabat sebegaj sekretaris.

Selain menjadi ketua PLEADS apa lagi kesibukan yang anda jalani saat ini?

Kalo untuk UKM aku hanya mengikuti PLEADS, namun saat ini aku tergabung dalam kepanitiaan Padjadjaran Law Fair (PLF) sebagai kepala divisi debat hukum universitas di Indonesia. PLF sendiri merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh BEM fakultas hukum yang berisikan beberpa kompetisi hukum yang melibatkan fakultas Hukum lainnya dan juga SMA yang ada di Indonesia.

Lalu bagaimana cara anda untuk bisa mengatur kesibukan anda tersebut?

Satu hal yang menirutku sangat membantu adalah membuat schedule. Aku memiliki buku schedule ku sendiri yang selalu aku tuliskan jadwalku tiap harinya. Dalam buku ini tidak hanya jadwal sih, aku juga menuliskan tugas dan apa saja yang aku butuhkan untuk hari berikutnya. Jadi menurutku cara membagi waktu secara efektif adalah dengan dicatat seperti ini.

Jika anda boleh memilih, apa yang akan anda pilih, kuliah atau organisasi?

Kalo aku cenderung organisasi dulu sih. Karena menurutku apa yang kita dapatkan di organisasi itu lebih banyak dari apa yang kita dapatkan di kelas. Dalam organisasi kita belajar praktek langsung. Seperti dalam debat ini kita benar-benar research tentang kasus-kasus dan mosi dari universitas lain. Jadi kita lebih paham prakteknya itu seperti apa, tidak hanya teori yang kita pelajari di kelas.

Bagaimana pembagian kerja dalam keorganisasian PLEADS ini?

Kita memiliki 3 departemen.  Pertama departemen kompetisi, itu berisikan debat, legal drafting dan legal writing. Departemen kedua, ada kajian penelitian dan pengembangan yang tugasnya membuat diskusi, penelitian dan pelatihan calon peserta debat. Yang ketiga, ada Biro media informasi komunikasi anggota dan hubungan eksternal yang tugasnya membuat poster dan menyambut tamu dari universitas lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto: Aulia Padlika Muslim

Vichela Regina saat mewawancarai Irma Ambarini pada kamis, 30 Maret 2107 pukul 15.00 WIB lalu di Baso Boedjangan, Jatinangor

 

Saya dengar PLEADS ini banyak mendapatkan prestasi dan penghargaan. Pernahlah hal tersebut dipublish  dalam media massa?

Prestasi kita lebih sering di publish dalam media sosial, seperti kalau kita juara debat biasanya masuk ke berita unpad dan hukumonline.com. Kita juga pernah masuk pikiran rakyat online tanggal 17 November 2014.

Menurut anda apa kelebihan dari teman-teman yang ada di PLEADS?

Menurutku, formalnya PLEADS ini adalah orang-orang yang mau belajar. Orang-orang yang bertahan di PLEADS hanya mereka yang mau belajar dan kuat untuk ditempa dulu. Orang-orang yang bertahan adalah mereka yang semau itu untuk belajar. Untuk informalnya mungkin karena waktu untuk kita bertemu itu cukup intensif jadi dalam PLEADS ini sudah berasa seperti keluarga sendiri,

Saya mendengar latihan PLEADS ini bisa sampai larut malam bahkan shubuh, apa itu benar? Lalu apa saja yang dilakukan?

Biasanya iya. Ang kita lakukan di minggu pertama itu research umum dulu, setelah itu kita latihan verbal, membuat argumentasi, dan pola pikir. Biasanya kita memakan waktu hampir satu bulan untuk latihan.

Pola pikir seperti apa yang ingin dibentuk oleh PLEADS ini?

Misalnya seperti ini, ketika lawan menyebutkan satu hal, kira-kira kelemahan apa yang bisa kita ambil dan kita putar balikan dari apa yang ia katakan tersebut. Jadi, jika kita terlatih untuk mencari kesalahan orang, apa yang mereka katakan walaupun itu benar, bisa kita cari kesalahannya.

Bagaimana cara PLEADS untuk mendapatkan informasi yang terpercaya ditengah maraknya kasus hoax saat ini?

Dalam debat kita diajarkan untuk research terlebih dahulu. Hal pertama yang biasa kita cari itu biasnya berita, ini bukan untuk mencari argumentasi tetapi untuk mencari tahu terlebih dahulu bagaimana isu dan keadaan yang terjadi di masyarakat. Nah, dari berita tersebut kita mencari informasi yang lebih ilmiah. Cara researchnya yaitu dengan menambahkan .pdf dalam keyword yang kita cari di internet, jadi informasi yang kita dapatkan itu dalam bentuk penelitian dan hal-hal yang dapat kita jamin validitasnya.

 Jika tadi anda menyebutkan kelebihan, lalu apa kekurangan teman-teman anda yang ada di PLEADS ini?

Kekurangan dari kami adalah kami malas untuk kuliah. Kami cenderung lebih semangat untuk PLEADS ini sendiri ketimbang belajar di kelas. Mungkin Ini yang harus diperbaiki dari anggota PLEADS yaitu niatnya untuk kuliah.

Menurut anda adakah perbedaan dari PLEADS ini saat sebelum dan sesudah anda ketuai?

Hmm.. kalo untuk pelaksanaan kegiatan ke luarnya belum terlalu keliatan sih, karena belum ada kompetisi yang kita ikuti dan kita laksanakan juga. Namun untuk pengurus PLEADS sendiri inshaAllah pengurus kali ini lebih solid dan kegiatannya lebih terencana. Karena semua proposal sudah disiapkan dari awal.

Pengalaman apa yang sudah anda dapatkan ketika menjabat sebagai ketua PLEADS ini?

Pengalaman paling luar biasa yang aku dapatkam sampai saat ini yaitu aku belajar bijaksana dan percaya sama teman-teman  yang membantu aku. Sebenarnya aku adalah tipe orang yang sulit untuk percaya dengan  orang lain, aku senang mengerjakan  banyak hal sendiri. Tapi ketika aku dilantik menjadi ketua, aku sadar jika organisasi ini tidak  mungkin jalan kalau semua bebannya ada di aku. Jadi aku belajar untuk percaya sama orang-orang yang memang sudah aku pilih sendiri. Kalau aku jadi ketua tapi aku masih capek dan pusing sendiri, berarti aku gagal jadi ketua.

Memangnya ada berapa banyak anggota dari PLEADS ini?

Untuk pengurusnya sendiri itu  ada 68 orang. Untuk anggota dari PLEADS ini  banyak dan tidak menggunakan sistem daftar-daftaran, kalau kamu mengikiuti kegiatan PLEADS apa saja, maka  kamu otomatis dianggap sebagai anggota dari PLEADS ini.

Pola asuh seperti apa yang kedua orang tua anda berikan sehingga berpengaruh terhadap anda hingga sekarang?

Mungkin aku dibiasakan sama orangtuaku untuk ngambil keputusan sendiri. Orangtuaku bukan tipe orangtua yang bakal ngedikte aku harus bagaimana dalam hal-hal besar atau kecil. Jadi untuk melakukan  suatu hal, aku harus pikirkan sendiri alasan-alasanku, lalu aku sampaikan ke mereka. Setelah itu mereka mmberi masukan dan pertimbangan lain di luar alasan-alasan yang sudah aku pikirkan, lalu aku putuskan sendiri. Dari pola seperti itu, aku belajar bertanggung jawab untuk semua hal yg aku lakukan, karena semua itu aku yang memilih dan memutuskan. Sama halnya seperti memilih untuk menjadi ketua PLEADS ini. Mamaku ga pernah bilang iya atau engga. Dia cuma nanya, apa pertimbangan iya dan engganya. Dia kasih alasan-alasam lain yg belum aku pikirkan, pro dan kontra. Akhirnya tetap aku yg memutuskan .

Apa harapan anda untuk teman-teman anda yang berada di PLEADS ini?

apapun yang mereka lakukan dalam PLEADS ini bermanfaat bagi kehidupam mereka. Targertanya tidak harus juara, karena itu merupakan usaha dan tambahan nikmat dari Tuhan. Tapi hal yang menjadi prioritas untukku adalah mereka sungguh-sungguh  melakukan apa yang menjadi tugas mereka dan mendapat manfaat dari itu, ilmu setidaknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto: Aulia Padlika Muslim

Irma Ambarini Darmawan, ketua PLEADS masa jabatan 2016-2017 di Baso Boedjangan, Jatinangor pada Kamis, 30 Maret 2017

 

 

Nama lengkap: Irma Ambarini Darmawan

TTL: Pekanbaru, 19 Agustus 1996

Hobi: Membaca, menyanyi

Alamat: Jl. Dago Pojok No. 27G, Coblong, Bandung

Media Sosial: all medsos @irmaambarinid

Alamat Surel: irmaambarinid@gmail.com

No hp: 08116929496

Riwayat Pendidikan:

SDN 009 Langgini Bangkinang

SMPN 1 Bangkinang, Riau

SMAN 1 Bangkinang, Riau

Pengalaman organisasi:

Sekretaris OSIS SMAN 1 Bangkinang

Kepala Divisi Debat PLEADS 2016

Ketua PLEADS 2017

Prestasi:

Juara 1 Kompetisi Debat Hukum Nasional Diponegoro Law Fair 2014

Juara 2 Kompetisi Debat Hukum Nasional UIN LAW FAIR 2015

Semifinalis Debat Mahkamah Konstitusi Regional Barat 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Kalau Belum Kena Tipus, Ya Belum Reporter Namanya

Menjadi seorang jurnalis tentulah tidak semudah yang kita bayangkan, berpegang teguh pada kebenaran dan berpihak kepada masyarakat tentu menjadi tujuan utama seorang Jurnalis. Bergelut dalam dunia jurnalistik TV selama lebih dari 5 tahun membuat Ivan Firmansyah memiliki pengalaman yang cukup banyak dan menarik di dunia Jurnlistik.

Alumni Jurnalistik Fakultas  Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran (Unpad) angkatan 2005 ini pernah bekerja di beberapa media, seperti Radar Bogor, Metro TV dan kini di Tv One yang notabenenya merupakan stasiun TV berita.

Sepanjang wawancara selama 30 menit di depan koperasi kantor Tv One di kawasan Industri Pulogadung Jakarta, Ivan tidak menggunakan seragam kerjanya. Sosok Ivan yang humble dan murah senyum mampu mencairkan suasan. Dalam wawancara yang dilakukan pukul 16.30 itu, Ivan menceritakan suka dukanya menjadi seorang jurnalis dan memberikan tips-tips untuk siap terjun ke dunia jurnalistik. Nada bicaranya mulai meninggi saat sedang membahas tentang kasus kekerasan dan pelecehan terhadap Jurnalis. Ivan selalu mengingatkan jika mental adalah hal utama yang harus disiapkan jika hendak terjun ke dunia jurnalistik.

***

 

Mengapa anda memutuskan untuk masuk ke dunia jurnalistik?

Dari kecil saya suka membaca buku  “The Adventures of Tintin” dan  “The Amazing Spiderman” yangmana notabene pemeran utamanya adalah seorang jurnalis. Karena itu pada saat lulus SMA saya memutuskan melanjutkan studi saya ke Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran, lalu pada saat penjurusan saya memilih Jurnalistik yang saya duga pasti akan seru dan banyak pengalaman.

Setelah menjadi seorang jurnalis, apakah bayangan beberapa tahun lalu itu benar adanya?

Bisa jalan-jalan, mengenal orang-orang penting dan berpengaruh, tentulah menjadi pengalaman seru yang saya dapatkan disini. Namun, jika ditanya mengeni ekspetasi saya dulu sebelum menjadi seorang jurnalis dengan setelahnya tentulah berbeda. Saya tidak pernah membayangkan menjadi seorang jurnalis itu banyak tantangannya, harus mengejar narasumber dan sumber berita, juga dikejar oleh deadline. Ya intinya ekspetasi saya saat kuliah Jurnalistik dulu berbeda setelah saya terjun ke dunia ini.

Statement bahwa kehidupan seorang jurnalis itu keras benar atau tidak?

Sebenarnya tergantung “keras” itu dalam maksud yang seperti apa dulu. Namun yang saya rasakan ketika menjadi seorang jurnalis itu dituntut memiliki mental yang kuat. Kurang tidur, makan ditunda-tunda udah jadi hal biasa. Nah disitulah resiko dan tantangan bagi seorang jurnalis. Biasanya kalau reporter baru disini, kalau belum kena tipus, ya belum reporter namanya.

Bagaimana cara agar jurnalis mempunyai nose of news yang baik?

Hmm biasanya begini, kalau reporter baru kita akan masukan ke dalam desk-desk tertentu. Misalnya desk hukum dan kriminal, politik, keamanan, ekonomi, sosial kemasyarakatan, dan lain-lain. Nah disitulah mereka akan bertemu dengan link-linknya, dengan narasumber-narasumber yang penting. Jika mereka sudah menguasai desk tersebut, mereka akan mendapatkan informasi secara tidak langsung. Seperti dengan masuk ke dalam group whatsapp atau line dari desk tersebut, group wartawan, sudah kenal dengan narasumbernya langsung tentu jika ada suatu kejadian dengan news value yang cukup tinggi akan peka dengan sendirinya.

Dari semua desk tersebut, desk mana yang paling penting menurut anda?

Pertama kali menjadi reporter itu pasti ditempatkan di desk hukum dan kriminal, karena agar kita merasakan “kerasnya” terlebih dahulu seperti melihat mayat dengan kondisi yang mengenaskan, melihat kecelakaan, malam-malam mencari peristiwa dll. Sebenarnya menjadi reporter itu harus menguasai desk manapun. Apalagi jika kerja di TV, semua berita harus masuk, harus mengerti. Jangan sampai ketika sudah terjun ke tempat berita kita tidak mengerti sama sekali harus bikin berita apa.

Perihal mayat, bagaimanakah cara meliput suatu peristiwa dengan etis dan baik dimana dalam peristiwa tersebut terdapat mayat?

Insting seorang jurnalis itu, semua peristiwa, semua gambar, semua detail apapun, ya kita ambil. Masalah saat mempublishnya itu tergantung dari kebijakan redaksi, apakah gambar tersebut akan di blur (sensor) atau bahkan gambar tersebut tidak akan diambil sama sekali. Sudah ada editor yang bertugas untuk menangani hal tersebut. Tetapi pada saat di lapangan, semua gambar yang memilki nilai berita ya harus kita ambil, tetapi tetap harus memperhatikan etika, jangan sampai mengganggu dan melanggar aturan dari kepolisian dan masyarakat yang berada disana. Bagusnya, hal-hal atau kejadian-kejadian yang penting bisa kita ambil secara detail. Justru seringkali hasil gambar seorang reporter menjadi laporan untuk basarnas mengenai penemuan mayat.

Mengenai sensor di Indonesia, atlet renang yang sedang menggunakan baju renang saja di sensor, apakah itu tidak berlebihan?

Perihal sensor itu di urus oleh Badan Sensor Nasional yang diatur oleh Menkominfo. Menurut saya pribadi, secara psikologis jika kita melihat sesuatu yang di sensor itu justru membuat kita semakin penasaran.

Dalam teknik wawancara tentunya kita harus membuat pertanyaan yang tidak dangkal

Nah iya itu benar. Apalagi jika kerja di TV, kalau kerja di media cetak anda wawancara satu jam dua jam itu masih bisa disaring apa yang hendak ditulis. Tapi ketika wawancara di siaran langsung TV yang terbatas oleh durasi, lalu pertanyaan anda dangkal, tentu itu akan mempermalukan diri dan media anda sendiri. Oleh karena itu, sebelum terjun ke lokasi kita harus melakukan riset terlebih dahulu.

Berdasarkan pengalaman anda wawancara dengan sumber dan narasumber, manakah yang paling berkesan?

Saya pernah mewawancarai pejabat tinggi di negeri ini, seperti Presiden.. Namun, mewawancarai pejabat negeri ini tidaklah susah, karena memang mereka ingin muncul di TV. Bahkan terkadang wawancara ini disetting terlebih dahulu. Yang paling sulit adalah mewawancarai korban atau keluarga korban. Saat mewawancarai korban atau keluarga korban tentu terjadi konflik batin dalam diri sendiri. Ketika mewawancarai mereka yang dalam keadaan terpukul dan sedih tentulah hal tersebut sangat sulit.

 

 

Foto : Aulia Padlika Muslim

Ekspresi Ivan Firmansyah saat diwawancarai oleh Vichela Regina Aprillia pada Minggu, 23 April 2017 di Kantor Tv One, kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta.

 

Lalu bagaimana caranya mendapatkan informasi dari korban atau keluarga korban yang sedang bersedih?

Ya kita harus mengajukan pertanyaan yang logis. Tempatkan posisi kita sebagai penonton dan korban juga. Kita harus mengetahui penonton itu perlunya apa, kita juga harus mengetahui perasaan korban. Tidak usah menanyakan hal-hal yang tidak penting.

Pertanyaan tidak logis, seperti apa?

Seperti bertanya “perasaannya bagaimana?” Ketika bertanya kepada korban yang tertimpa musibah. Atau bertanya “apakah ada firasat tertentu sebelum terjadinya kejadian ini” kepada keluarga korban. Tentu hal tersebut akan menambah sedih korban atau keluarga korban. Seharusnya reporter itu menanyakan hal-hal yang penting saja, seperti “adakah bantuan dari pemerintah?” yang jelas akan memberikan informasi yang penting untuk penonton dan tidak akan menyinggung perasaan korban atau keluarga korban.

Namun seringkali saya melihat seorang reporter melontarkan pertanyaan yang tidak logis saat mewawancarai keluarga korban…

Bisa jadi itu adalah wartawan baru, atau dia sudah bingung hendak menanyakan apalagi ketika durasi masih tersisa banyak sehingga keluarlah pertanyaan-pertanyaan tidak logis seperti itu. Untuk menghindari hal tersebut, itu tadi harus riset terlebih dahulu. Namun, jangan sampai risetnya terlalu lama sehingga momennya sudah tidak tepat lagi.

Lalu bagaimana ketika pertanyaan anda sudah habis namun durasi masih panjang?

Jika memang pertanyaan sudah habis, tidak ada yang perlu di explore lagi, yasudah cukup. Kenapa harus dipaksakan lagi?

Jika berbicara tentang meliput, pengalaman meliput apa yang paling berkesan bagi anda?

Sebenarnya yang paling berkesan itu ketika meliput kejadian-kejadian besar, seperti ketika saya meliput kecelakaan Sukhoi Superjet-100 di Gunung Salak dan meliput kecelakaan pesawat MH370. Meliput undangan dan kegiatan di Istana Presiden itu kalah seru dan menantang dibanding meliput kejadian-kejadian besar yang memakan korban dan menyangkut kepada banyak orang.

Bagaimana pandangan anda tentang dunia jurnalistik di Indonesia?

Menurut sepenglihatan saya, beberapa jurnalis di Indonesia itu masih ada yang kebablasan. Terlalu menuntut ekslusifitas, kecepatan, yang kadang-kadang bertujuan untuk menaikkan ratting. Profesionalisme wartawan  masih harus dijunjung tinggi. Apapun itu kita lakukan yang terbaik untuk memberikan berita kepada penonton tanpa harus memperhatikan ratting.

Melihat dari kasus yang tengah booming sekarang yaitu salah satu wartawan TV diludahi oleh seorang lelaki yang mengendarai mobil minicooper bagaimana pendapat anda?

Menurut saya itu sudah keterlaluan sih. Pelecehan terhadap wartawan memang masih kerap ditemui, jika memang ia tidak ingin diliput, ya tinggal bilang jika ia keberatan. Tidak perlu melakukan hal tersebut. Bagaimanapun seorang wartawan itu tetap harus dihormati. Hal tersebut tertera dalam Undang-Undang Pers. Wartawan itu takutnya hanya sama Pemrednya haha..

Ditengah maraknya kasus kekerasan terhadap wartawan apakah pihak berwajib telah melakukan tindakan tegas untuk menangani hal ini?

Dengan adanya Undang-Undang Pers maka seorang wartawan itu jelas telah dilindungi oleh Undang-Undang Pers. Kebebasan untuk meliput dan mencari informasi tentulah dilindungi. Jadi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kita tidak perlu takut. Lagipula solidaritas antar sesama wartawan pun tinggi.

Bagaimana menurut anda mengenai plagiarisme di Indonesia?

Plagiarisme yang seperti apa dulu. Jika mengenai plagiarisme seperti mencomot berita dari stasiun TV lain menurut saya sudah jarang ditemukan. Namun jika seperti mengambil informasi dari wartawan lain yang sudah mendapatkan terlebih dahulu menurut saya itu hal biasa. Tangan, mata dan kaki kita hanya dua. Tentu sangat sulit mendapatkan informasi sebanyak itu hanya dengan diri kita sendiri. Sebagai sesama wartawan biasanya berbagi informasi dan gambar sebelum disampaikan kepada publik merupakan hal yang biasa. Ya namanya juga manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan.

Kerjasama antar sesama rekan wartawan yang berasal dari media yang berbeda itu hal yang biasa?

Ya, namun kita perlu harus waspada dan berhati-hati. Perlu melakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum menayangkan berita tersebut. Persaingan untuk menjadi yang tercepat pun tidak bisa dihindarkan antar media yang berbeda.

Apakah ada kesepakatan terlebih dahulu?

Tentu saja, kami sepakat untuk membagi informasi dan gambar kepada rekan sesama wartawan asalkan berita tersebut disampaikan dengan angle yang berbeda.

Apa saran untuk mahasiswa jurnalistik yang akan terjun dalam dunia jurnlistik di Indonesia?

Persiapkan mental dengan baik. Jangan pernah memiliki pikiran jika menjadi seorang wartawan itu enak. Maka dari itu jika ingin menjadi wartawan teguhkan pendirian untuk menjadi wartawan yang berguna bagi banyak orang dan selalu mengungkap suatu kebenaran. Wartawan itu memiliki tanggung jawab, jadi jika kalian hanya ingin muncul di TV dan menjadi terkenal maka lebih baik tidak usah menjadi wartawan.

Foto : Aulia Padlika Muslim

Koordinator Lipitan daerah Jawa Barat dan Banten Tv One, Ivan Firmansyah pada Minggu, 23 April 2017 di kantor Tv one, Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta

 

Seni adalah Media untuk Berjumpa

 

Di zaman millenium seperti ini, banyak orang yang tidak mengerti apa maksud dari seni itu sendiri. Bahkan beberapa kalangan anak muda ini bergaya seolah-olah ia paham tentang seni, namun nyatanya tidak. Penerapan nilai-nilai seni kini mulai dilupakan. Nilai-nilai seni ini adalah menyangkut tentang perasaan dan pengalaman jiwa. Ditengah hiruk pikuk keadaan masyarakat saat ini, seni bisa menjadi semacam terapi jiwa.

Untuk menyatukan suara, dan mempererat tali persaudaraan yang terjalin antar sesama bangsa Indonesia ini tentu banyak caranya. Salah satunya melalui seni. Seni adalah media untuk berjumpa dengan sesama saudara kita. Melalui seni kita bisa berkumpul, bercengkarama  dan bertukar pikiran. Melalui seni pula lah kita bisa mendapatkan ketenangan dan pengalaman jiwa.

Seiring berkembangnya zaman tentu seni yang dibutuhkan oleh masyarakat mengalami perubahan. Dulu seni hanya dikembangkan melalui industrinya saja, sehingga hanya berputar di ranah kapitalis. Namun pada saat ini, seni sudah menjadi kebutuhan batin di tengah tekanan aktifitas sehari-hari yang sangat menjenuhkan.

Sri Marintan Sirait, adalah seorang seniman transdisiplin yang berfokus dalam bidang somatic practice. Ia sudah memiliki ketertarikan pada seni sejak ia masih kecil. Memiliki suami seorang seniman juga, yaitu Andar Manik agaknya membuat Marintan semakin yakin untuk bergelut dalam dunia seni ini. Sosoknya yang ramah dan halus membuat wawancara yang berlangsung pada Minggu, 4 Juni 2017 pukul 20.00 WIB ini tidak terasa memakan waktu sekitar dua jam. Wawancara ini berlangsung di rumahnya yang berorientasi kayu di komplek PPR ITB Dalemwangi, Dago Bengkok.

***

Sejak kapan anda mulai menyukai seni?

Saya sudah mulai menyukai seni itu sejak saya masih kecil. Kebetulan orang tua saya memberikan perspektif seni dari usia dini kepada saya, seperti pada usia empat tahun saya sudah diajak untuk menonton opera. Lalu ketika saya menginjak pendidikan di Sekolah Dasar, saya diberi pemahaman jika kita harus memiliki satu bidang yang kita kuasai lagi selain di sekolah, akhirnya saya memutuskan untuk menekuni bidang seni ini. Saya lalu menekuni tari-tari klasik jawa dan balet hingga saya masuk dalam perkumpulan yang bernama Viatikara sampai saya menginjak bangku perkuliahan seni murni di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB).

Apa saja kegiatan yang dilakukan dalam perkumpulan Viatikara tersebut?

Viatikara adalah sebuah komunitas yang memberikan ruang untuk kesenian-kesenian tradisi maupun pengembangan dari tradisi. Ini menarik, karena vatikara ini merupakan ruang yang beragam budaya. Jadi yang paling banyak dipelajari disini adalah tari-tari pergaulan seperti tari melayu, tari piring, tari giring-giring,dll. Yang menarik juga ketika kita mendapatkan kesempatan untuk menampilkan sebuah pertunjukan keliling daerah yang terpencil di Indonesia yang rasanya sangat menyenangkan. Diluar kita mengembangkan keterampilan kita, kita juga mengenal ruang-ruang yang belum kita kunjungi sebelumnya. Dalam pertunjukan ini pun sangat dijunjung tinggi toleransi beragama, dimana saya yang notabenenya non-islam bisa menggelar pertunjukan untuk mengisi bulan Ramadhan bersama dengan acara kasidahan.

Apa latar belakang orang tua anda juga dari dunia seni?

Tidak. Ayah saya merupakan orang yang berasal dari institusi pendidikan, dan bidangnya sains. Ibu saya adalah orang yang bergerak di dunia pendidikan juga yang spesifik dalam bidang anak-anak dan berkebutuhan khusus.

Perihal gallery anda yang berada di Jl. Kanayakan no 48, apakah itu masih beroperasi?

Sebetulnya itu bukan gallery, itu rumah saya dulu. Kebetulan karena suami saya, Andar Manik, bergelut dalam dunia seni juga, jadi kami selalu memanfaatkan rumah kami sebagai ruang untuk berkreasi, terutama untuk seni-seni pertunjukan.

Dari sekian banyak karya yang telah anda ciptakan, dari manakah ide itu berasal?

Sebenarnya, awalnya kita berkarya itu ya berkarya bebas saja. Sampai pada satu titik kita akan menemukan hal yang spesifik dalam diri kita. Di awal tahun 90-an saya berpikir, merasa dan mendapatkan inspirasi tentang rumah. Jadi, saya melewati beragam proses yang kemudian menghadirkan kaya yang selalu berkaitan dengan rumah, seperti Home Body Home, my body my home, tubuhku rumahku, dll . Rumah dalam konteks ini bukan rumah fisik, melainkan rumah yang ada dalam diri kita. Rumah yang dijadikan sebagai basis berpikir, titik berangkat, itulah yang menjadi konsen saya dalam berkarya.

Bagaimana bisa mendapatkannya?

Mendapatkannya melalui proses kita berinteraksi, kita berkarya, melakukan refleksi terhadap apa yang terjadidi sekeliling kita, beberapa bahasan yang mengenai dunia psikologi dan filsafat.

Berarti pandangan tentang seni yang selalu berkaitan dengan filsafat itu benar adanya?

Setiap orang bisa memilih dia mau bergandengan dengan  disiplin ilmu yang mana. Kebetulan yang saya dalami itu adalah somatic practice. Yaitu bagaimana kita menginderai melalui tubuh. Tubuh kita sebenarnya bisa dilatih. Melalui bahasa tubuh saya bisa mehami orang yang sedang berhadapan dengan saya. Namun, perlu latihan terlebih dahulu. Itu adalah bagaimana kita mempunyai kepekaan melalui tubuh untuk merasakan energi dari orang lain dengan latihan gerak.

Prestasi apa yang paling berkesan yang pernah anda dapatkan?

Dalam dunia seni itu kan relatif, kita tidak bisa mengatakan seni yang ini lebih baik dibandingkan seni lainnya. Tetapi kita bisa membaca perjalanan. Tidak mau dibilang prestasi juga, tapi catatan perjalanan karena kita tidak bisa bilang yang satu lebih unggul dari lainnya. Salah satu yang bisa dibilang menarik itu adalah bahwa melalui apa yang kita coba ungkapkan melalui seni ini kemudian menjadi sesuatu yang dianggap menarik secara tema dan dapat berkeliling secara gratis atas dasar sebuah tema yang kita angkat.

Untuk Galeri Seni Jendela Ide yang anda dirikan bersama suami anda, apa yang mebuat anda memutuskan untuk mendirikannya?

Jendela ide ini kami dirikan pada tahun 1995. Pada saat itu kita menghadapi situasi pertentangan, perkotakan, dan masalah utamanya adalah minimnya toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman. Ini juga yang membuat kita bertahan dan harus terus memfasilitasi jendela ide karena sasaran utama kita adalah generasi mendatang. Jangan sampai anak-anak muda ini kemudian tidak menemukan ruang dimana mereka bisa melakukan perjumpaan, seni adalah media mereka untuk berjumpa. Ruang ini lah yang ingin kita tumbuhkan dan terus pelihara. Kita adalah sebuah lembaga kultural yang tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi ingin menyampaikan nilai-nilai yang dibawa oleh keberagaman budaya ini. Di jendela ide inilah kita masih bisa berjumpa, bergabung, dan beraktifitas secara bersama.

Selama 20 tahun jendela ide ini berdiri, adakah hambatan untuk terus mempertahankannya?

Hambatan paling utama itu sebenarnya adalah masalah finansial, karena sebenarnya baru sekarang ada institusi dan kementrian yang konsen dalam bidang seni ini. Kebudayaan tidak menjadi prioritas, yang menjadi prioritas itu tetap sandang, pangan, dan papan. Yang terlupakan adalah kita juga perlu mebangun sebuah nilai-nilai dalam manusia tersebut yang memerlukan proses yang panjang dan terukur. Indonesia sangat dirugikan karena hal tersebut karena kemudian indonesia tidak memiliki posisi tawar di dunia Internasional.

Apa hingga sekarang masih seperti itu?

Ya, karena tidak ada yang mau mengambil porsi itu. bentuk seni yang kita tawarkan untuk luar negeri itu masih sekitar Trade Fair, atau sekedar tari-tarian yang kita bawakan. Namun, bagaimana kita mengungkapkan  nilai-nilai dibalik hal tersebut masih sangat kurang.

Bagaimana menurut anda antusias pemuda Bandung terhadap nilai-nilai dari seni ini?

Itu tergantung pada persepektifnya sendiri untuk menghadapi zaman. Ada kelompok yang sangat tertarik untuk mempelajari kembali nilai-nilai karena situasi kita yang semakin menyempit akan pandangan kita terhadap orang lain. Tetapi ada juga kelompok anak muda yang kemudian berinteraksi dengan dunia sosial media dan yang lainnya yang sangat singkat bisa menggoreng isu dan mendapatkan popularitas. Ya tidak bisa disalahkan juga karena situasinya yang membuat mereka menjadi seperti ini. Yang penting ini berjalan dengan berimbang. ada yang mempelajari kembali nilai-nilai dan ada yang berfokus pada situasi saat ini.

Tapi bukankah kesadaran akan mempelajari dan melestarikan nilai-nilai budaya itu harus dimilki oleh setiap anak muda?

Hal ini tidak bisa dipaksakan. Kesadaran ini memang akan tumbuh pada momennya. Zaman berkata lain, seiring berkembangnya zaman kesenian tradisi ini tidak begitu dilihat. Anak muda

tentu akan lebih tertarik untuk membuat band dengan aliran yang mereka sukai daripada mereka mempelajari alat musik kecapi dan nilai-nilai apa saja yang terdapat dibalik alat musik tersebut. Namun dimata dunia internasional, hal ini lebih berharga, karena inilah yang akan membawakan wacana lain yang khas dari Indonesia di mata dunia.

Adakah dukungan pemerintah untuk anak muda yang mendalami seni tradisi ini?

Pemerintah melalui dirjen kebudayaan yang sekarang ini cukup bagus mendukung anak muda sekarang. Dengan model yang terbuka ada kesempatan bagi anak muda yang mempelajari seni tradisi ini  untuk melaksanakan program semacam residensi di berbagai negara secara gratis. Dan ini baru dilakukan sekarang.

Berarti sebelum ini tidak ada dukungan pemerintah?

Pernah ada dulu pada saat ibu Edi Setiawati karena beliau sangat paham akan seni karena beliau adalah seorang penari asal jawa. Beliau mengirimkan seniman ke Sao Paulo Bianal, Brazil, dan kebetulan waktu itu saya. Itu adalah pengiriman kedua setelah Indonesia mengirimkan Affandi tahun 1957. Setelah itu tidak ada lagi, baru ada sekarang. Kenapa baru ada sekarang. Karena beliau paham, beliau adalah orang kebudayaan.

Sau Paulo Bianal?

Sao Paulo Bianal itu adalah sebuah event dunia yang sangat besar dimana ada satu lantai itu ada seniman-seniman tampil, mungkin sekarang seniman itu sudah tidak ada. Lalu kemudian ada pameran dari seniman-seniman tersebut yang karyanya dijaga ketat oleh security, seperti karya asli dari Edward Munch. Kemudian ada seniman-seniman perwakilan negara, lalu ada satu lantai lagi yang isinya seniman-seniman galeri.

Apa yang ibu tunjukkan disana?

Saat itu saya menampilkan hasil karya saya sendiri “Building House”, itu adalah visual art performance. Jadi, unsur visualnya ada, unsur gerak tubuhnya ada, unsur sound atau musiknya juga ada.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto : Aulia Padlika Muslim

Ekspresi Marintan Sirait saat diwawancarai oleh Vichela Regina pada Minggu, 4 Mei 2017 di kediamannya, komplek PPR ITB Dalemwangi, Dago Bengkok

Darimana ibu mendapatkan ide untuk karya tersebut?

Ada proses interaksi kita dengan lingkungan, proses interaksi kita dengan sosial politik, proses interaksi kita dengan alam, proses pembacaan kita di dunia psikologi dan filsafat, dan tidak lepas dari proses latihan kita yang dituntut untuk setiap hari.

Ditengah keadaan sekitar yang kurang bersahabat, adakah rencana atau karya anda untuk mengkritik hal ini?

Orang bisa bereaksi macam-macam, orang bisa bersifat reaktif ataupun tidak. Saya sendiri akan berfikir bahwa saya tidak mau bersifat reaktif. Misalnya begini, ryang ingin saya munculkan itu adalah inspirasi untuk berkehidupan dengan baik. Contohnya, saya ada rencana untuk mengadakan performance pada september ini  di Macan, museum of contemporary and modern art yang baru akan dibuka di Jakarta. Saya mencoba membangun ruang perjumpaan yang berkolaborasi dengan 100 partisipan yang tidak pernah berkecimpung di dunia seni.

Lalu pertunjukan itu akan seperti apa?

Niatnya untuk mempertemukan orang-orang yang sangat beragam, yang nanti disana akan muncul ekspresi-ekspresi seperti empati, refleksi, kasih sayang, dan yang lainnya. Jadi, ingin memunculkan sesuatu yang tidak ada di masyarakat saat ini.pekerjaan seni ini adalah pekerjaan yang memunculkan gagasan-gagasan yang berada di ruang yang terbatas menurut saya.

Karya seni itu memiliki potensinya di bidang ekonomi, bagaimana antusias anak muda di Bandung akan hal ini?

Artsy society memang tumbuh, tapi itu masih hilang timbul. Jadi pada suatu saat ada sebuah acara yang memang seni banget, tanpa band-band. Kemudian dari jendela ide sendiri menampilkan live drawing dengan performance musik dan dupa. Yang membeli tiket untuk menyaksikannya itu kurang lebih 600-700 orang dengan harga tiket yang mahal. Itu banyak yang datang. Mereka datang dengan gaya yang sangat artsy, dan memang mereka adalah orang yang mengapresiasi ini, yang selama ini tidak ada.

Adakah perbedaan dari selera seni masyarakat saat dulu dengan sekarang?

Sekarang yang cukup menarik itu, art as an experience seni sebagai sebuah pengalaman batin. Stimulusnya itu bukan hanya musik, tapi ada visualnya ada bebauannya, ada geraknya. Nah ini mungkin barangkali tendensi yang disukai oleh anak muda. Kejenuhan akann   kegiatan sehari-hari sehingga membutuhkan ruang untuk merefleksikan diri. Jadi, seni bisa menjadi semacam media terapi. Sedangkan saat dulu itu seni yang sangat diangkat itu industri, ia menjadi sesuatu yang berputar di ranah kapitalis.